
HSBC Global Research memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menguat hingga ke level 9.700 pada tahun ini. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde mengatakan saat ini eksposur terhadap portfolio saham di Indonesia masih relatif rendah. Di sisi lain, pasar saham Indonesia menawarkan valuasi yang rendah.
“Indonesia menawarkan pemulihan dalam siklus pertumbuhan dan pendapatan, serta valuasi rendah, di saat orang-orang mencari eksposur pasar yang sedang berkembang,” kata Herald dalam media briefing daring pada Senin, 12 Januari 2026.
Pada perdagangan pekan lalu, IHSG ditutup di level 8.936,7. Sedangkan pada pagi ini, IHSG dibuka di level 8.991,76.
Di sisi lain, Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai arus modal asing yang masuk ke Indonesia belum cukup kuat. Arus modal yang belum kuat ini terjadi baik di pasar saham, pasar obligasi, maupun penanaman modal asing.
Menurut Pranjul, nilai tukar rupiah berpotensi tertekan lebih jauh pada tahun ini. Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini tercatat melemah ke level Rp 16.855 per dolar AS. “Pada akhir tahun ini, nilai tukar rupiah bisa mencapai level Rp 17.000 per dolar AS,” katanya.
Dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026, pemerintah menargetkan nilai rupiah berada di level Rp 16.500 per dolar AS. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG bisa mencapai 10.000 pada tahun ini.
Purbaya meyakini kenaikan akan lebih cepat didorong kebijakan pemerintah yang makin sinkron dan prospek ekonomi yang makin baik. “Tahun depan (IHSG) 10.000? Oh, lebih. Akhir tahun depan lebih dari 10.000,” ucapnya kepada media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, 31 Desember 2025.
Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan Editor: Apa Dampaknya Jika Impor Beras Industri Disetop
