
CHIEF Executive Officer BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan 6-11 proyek penghiliran yang mulai dilakukan Februari 2026 fokus ke berbagai sektor dan di daerah yang berbeda.
“Ada bauksit, aluminium di Balikpapan, kemudian ada bioavtur, refinery, kemudian ada unggas di 5 tempat,” katanya saat ditemui di IDN HQ, Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menargetkan 6-11 proyek penghiliran mulai dilakukan pada Februari 2026. Nilai proyek tersebut sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 101 triliun.
Sebanyak 6 proyek tersebut bagian dari 18 proyek yang akan dimulai dengan target paling lambat pada Maret. Satu dari royek itu termasuk waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Rosan mengatakan investor peminat proyek PSEL banyak dari dalam maupun luar negeri. Proyek yang akan dijalankan di 33 kabupaten/kota tersebut akan mengolah 1.000 ton sampah per hari.
“Jadi dan yang ikut itu di atas 100 perusahaan dengan teknologi kami minta yang tertinggi,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan 18 proyek penghiliran tersebut telah melewati tahap prastudi kelayakan, dan diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai Rp 600 triliun. Realisasi investasi proyek-proyek tersebut akan dipimpin langsung oleh Danantara.
Selain proyek waste to energy, groundbreaking akan dilakukan pada proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). DME merupakan salah satu bagian dari penghiliran batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif.
Prasetyo mengatakan pemerintah menargetkan DME mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap gas LPG. “Orientasi kerja harus sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara serta masyarakat, dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan ego sektoral,” ujarnya pada Kamis, 8 Januari 2026.
Pilihan Editor: Kerugian Negara di Balik Insentif Pertambangan
