
BADAN Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia berencana melakukan peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi pada Jumat sore, 6 Februari 2026. Keenam proyek tersebut merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi yang saat ini tengah disiapkan oleh Danantara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan peletakan batu pertama itu akan dilakukan pada sore hari. “Rencananya besok sore,” ujar Rosan Roeslani seusai menghadiri forum CNA Summit 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis, 5 Februari.
Rosan Roeslani menyebutkan nilai investasi untuk enam proyek hilirisasi tersebut mencapai sekitar US$ 5,8 miliar. Seluruh pendanaan proyek berasal dari Danantara tanpa melibatkan mitra pendanaan eksternal.
Selain proyek hilirisasi, Rosan Roeslani juga menyinggung target dividen Danantara pada 2026. Ia membenarkan bahwa laba bersih yang menjadi dasar perhitungan dividen mencapai Rp 350 triliun.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ahmad Erani Yustika mengatakan sejumlah proyek hilirisasi di sektor energi telah memasuki tahap studi kelayakan (feasibility study) oleh Danantara. Ia menyebutkan tahapan tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Menurut Erani, terdapat 18 proyek yang saat ini disusun studi kelayakannya dengan tingkat kompleksitas yang berbeda-beda, khususnya pada proyek hilirisasi sektor energi. “Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun karena harus segera dieksekusi,” kata Erani saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat, 19 September 2025.
Erani menambahkan, proyek pengembangan dimethyl ether (DME) menjadi salah satu prioritas yang ditargetkan rampung lebih awal. Menurut dia, DME berpotensi menggantikan LPG impor sehingga dapat menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Adapun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional kepada Rosan Perkasa Roeslani pada Selasa, 22 Juli 2025. Dokumen tersebut memuat 18 proyek hilirisasi dari berbagai sektor yang akan melibatkan Danantara sebagai pengelola pendanaan.
Bahlil merinci, proyek tersebut terdiri atas delapan proyek sektor mineral dan batu bara, tiga proyek pertanian, tiga proyek kelautan dan perikanan, dua proyek transisi energi, serta dua proyek ketahanan energi. Total nilai investasi dari 18 proyek prioritas itu diperkirakan mencapai Rp 618,13 triliun dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 276.636 orang.
Namun Bahlil menegaskan, rincian nilai investasi tersebut masih bersifat awal dan akan melalui proses kajian lanjutan oleh Danantara. Pemerintah, kata dia, juga akan membentuk Satuan Tugas Investasi dan Ketahanan Energi yang diinisiasi bersama antara Danantara dan Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional untuk mengawal implementasi proyek.
Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan Editor: Siasat Investor Bertahan di Tengah Gejolak Pasar Modal
