
SURVEI Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada November sebesar 222,9 atau tumbuh 6,3 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 4,3 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi pada Senin, 12 Januari 2026.
Kelompok Suku Cadang dan Aksesori tumbuh 17,7 persen secara tahunan. Kemudian kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh 8,5 persen secara tahunan. Sementara kelompok Barang Budaya dan Rekreasi tumbuh 8,1 persen secara tahunan.
Secara bulanan, penjualan eceran pada November 2025 tumbuh sebesar 1,5 persen. Angka ini meningkat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 0,6 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan penjualan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang periode perayaan Natal dan Tahun Baru.
Berdasarkan survei BI, kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 diperkirakan tetap tumbuh, meski angkanya tak sebesar November. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 yang diprediksi sebesar 231,7 atau tumbuh sebesar 4,4 persen secara tahunan.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,0 persen. “Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Makanan, Minuman dan Tembakau sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan tahun baru,” ucap Denny.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Februari 2026, diprakirakan meningkat. Sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Mei 2026, diprakirakan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 yang tercatat sebesar 168,6. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan 163,2 pada periode sebelumnya.
Adapun peningkatan tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan harga menjelang periode Ramadan. Sementara itu, IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar 161,7.
Pilihan Editor: Kredit Macet Pinjaman Online Melonjak
