Gadai BPKB

fea59a7386e851beca7732404394e87d

Shell Belum Sepakat Serap Base Fuel dari Pertamina

SHELL Indonesia mengonfirmasi hingga saat ini belum ada kesepakatan dengan PT Pertamina Patra Niaga terkait pasokan base fuel untuk produk bahan bakar minyak di jaringan SPBU mereka. Akibatnya, sejumlah SPBU Shell belum menyediakan produk bensin, seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+.

“Pembahasan B2B terkait dengan pasokan impor base fuel terus berlanjut,” kata President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian melalui keterangan tertulis, Jumat, 31 Oktober 2025.

Menurut Ingrid, Shell terus berkoordinasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan ketersediaan kembali produk bensin di seluruh jaringan SPBU Shell. Upaya tersebut dilakukan dengan tetap menjunjung standar keselamatan operasional, prosedur pengadaan dan kualitas bahan bakar tinggi sesuai standar global Shell.

Meski produk bensin belum tersedia, SPBU Shell tetap beroperasi melayani pelanggan dengan produk Shell V-Power Diesel serta layanan lain, seperti Shell Select, Shell Recharge, bengkel, dan pelumas Shell. Informasi terkait ketersediaan produk bensin akan diumumkan melalui situs web Shell Indonesia, layanan pelanggan, aplikasi Shell Asia, dan kanal media sosial perusahaan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan seluruh operator SPBU swasta kini telah bernegosiasi dengan Pertamina untuk menjamin suplai BBM ke jaringan mereka. “Semua sudah bernegosiasi sekarang. Sebelumnya ada yang belum, tapi saat ini seluruhnya telah melakukan pembicaraan dengan Pertamina,” ujar Laode saat ditemui usai Upacara Hari Jadi Pertambangan dan Energi di Monas, Jakarta, Jumat, 24 Oktober 2025.

SPBU BP, Shell, dan Vivo mengalami kelangkaan BBM sejak pertengahan Agustus lalu. Namun hingga saat ini baru BP-AKR yang telah mencapai kesepakatan kerja sama pemenuhan pasokan dengan Pertamina.

Polemik kelangkaan BBM di sejumlah SPBU swasta terjadi sejak pertengahan Agustus lalu. Kementerian ESDM menyebut kondisi ini disebabkan oleh kuota impor BBM swasta yang sudah habis. Pemerintah telah memberikan tambahan kuota impor BBM bagi SPBU swasta sebanyak 10 persen dibandingkan tahun lalu.

Untuk mengatasi hal itu, Kementerian ESDM dan Pertamina menggelar sejumlah pertemuan dengan pihak swasta agar SPBU swasta agar dapat mengimpor BBM melalui Pertamina. Perusahan minyak negara itu masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34 persen atau sekitar 7,52 juta kiloliter.

“Semua perusahaan swasta sudah mendapat tambahan kuota 10 persen dari tahun sebelumnya. Contoh, kalau tahun 2024 mereka dapat 1 juta kiloliter, maka 2025 jadi 1,1 juta kiloliter. Jadi semuanya sudah kebagian,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kepada wartawan, Rabu, 17 September 2025.

Menurut Bahlil, jika perusahaan swasta membutuhkan pasokan lebih dari kuota yang sudah diberikan, maka solusinya adalah berkolaborasi dengan Pertamina. “Kenapa harus Pertamina? Karena Pertamina adalah representasi negara. Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya hajat hidup orang banyak pada mekanisme pasar,” kata Bahlil.

Ketua Umum Partai Golkar itu menegaskan, mekanisme satu pintu impor BBM melalui Pertamina dirancang untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus melindungi kepentingan masyarakat. “Kalau mau lebih, silakan melalui Pertamina. Pemerintah sudah menyalurkan kuota 110 persen itu kepada swasta, tinggal bagaimana mereka bersinergi,” katanya.

Bahlil memastikan kebijakan tersebut tidak bermaksud menutup ruang bagi swasta. kerja sama SPBU swasta dengan Pertamina, kata dia, bertujuan untuk menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kebutuhan publik. “Semua tetap bisa berusaha, tapi harus ada keterjaminan pasokan yang menyangkut hajat hidup banyak orang,” ujar Bahlil.

Pilihan Editor: Biang Masalah BBM Langka di SPBU Swasta