Gadai BPKB

0872b6ce8a147ad33f30d811d41a71f7

Rupiah diprediksi pengaruhi pergerakan IHSG pekan ini

AA1TVpIT

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 9.000 dan resistance 9.125 pada perdagangan awal pekan, Senin, 19 Januari 2026. “Dengan indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) menunjukkan penguatan tren, meski di sisi lain RSI kembali menunjukkan IHSG dalam area overbought (batas jenuh kenaikan),” kata VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, dalam keterangan tertulis, Ahad, 18 Januari 2026.

Menurut Oktavianus, terdapat sejumlah sentimen yang memengaruhi perdagangan besok. Pergerakan IHSG besok dipengaruhi keberlanjutan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Oktavianus menyoroti nilai tukar rupiah yang saat ini sudah mendekati level Rp 16.882 per US$. Pelemahan rupiah dikatakan Oktavianus cenderung meningkatkan ketidakpastian oleh investor.

Selain pelemahan rupiah, Oktavianus mengatakan pergerakan IHSG besok dipengaruhi penantian rilis keputusan suku bunga Bank Indonesia, yang diperkirakan tetap di level 4,75 persen. Hal ini, kata Oktavianus, akan memberikan sentimen moderat untuk pasar.

Berkaca pada analisis pergerakan IHSG tersebut, Oktavianus merekomendasikan beberapa saham pilihan dengan analisis teknikal. Dua saham itu adalah BBRI dan CTRA. Untuk BBRI, dia memprediksi saham akan bergerak di level support 3.700 dan resistance di 4.040. Sementara saham CTRA diperkirakan berada di level support 890 dan resistance 1.000.

IHSG kembali mencatat rekor all-time-high (ATH) dengan ditutup di level 9.057,40 pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. IHSG menguat 1,55 persen dibandingkan penutupan pekan lalu yang berada di level 8.936,75.

Oktavianus mengatakan IHSG sepekan terakhir menguat sebesar 1,68 persen ke level 9.075 dan sempat menyentuh level 9.100 pada penutupan perdagangan dengan net inflow sebesar Rp 4 triliun di seluruh perdagangan.

Menanggapi itu, Oktavianus berpandangan penguatan IHSG didorong beberapa faktor, salah satunya ialah penguatan sektor perbankan. Oktavianus menyoroti penguatan sektor finansial atau IDXFIN sebesar 1 persen sepanjang sesi pertama pada 15 Januari 2026. “Kami berpandangan seiring dengan valuasi yang menarik dan potensi dividend,” kata dia.

Pengaruh kedua adalah penguatan sektor tekstil seiring dengan rencana suntikan pendanaan sebesar US$ 6 miliar dengan difokuskan pada pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, dan peningkatan kapasitas ekspor tekstil.

Penguatan IHSG kemarin, kata Oktavianus, juga dipengaruhi kenaikan harga energi dan mineral, seperti penguatan minyak mentah ke level US$ 62 per barel, batu bara ke level US$ 110 per ton, hingga emas yang mencatatkan rekor baru ke level US$ 4.630 per troy ounce. Kenaikan harga ini menurut Oktavianus kan memberikan sentimen positif terhadap emiten terkait.

Meski demikian, Oktavianus menyatakan pasar juga dipengaruhi kekhawatiran akan berlanjutnya depresiasi rupiah terhadap dolar yang akan menunjukkan instabilitas dalam negeri.

Pilihan Editor: Mengapa Stimulus Ekonomi Tak Cukup Mendongkrak Daya Beli