
LAPORAN Surveillance Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) menyusut ribuan dalam setahun. Meski demikian, jumlah ATM di Bank Central Asia (BCA) justru meningkat.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menilai keberadaan ATM, khususnya ATM setor-tarik, masih dibutuhkan masyarakat terutama yang memiliki mobilitas tinggi. “BCA berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang beragam dengan tetap berinvestasi menambah mesin ATM,” ucapnya lewat jawaban tertulis kepada Tempo, Rabu, 28 Januari 2026.
Berdasarkan survei yang dirilis OJK, pada triwulan III 2025 jumlah terminal perbankan elektronik (ATM/CDM/CRM) sebanyak 89.774 unit atau menyusut dibanding jumlah pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 91.173 unit. Terminal perbankan elektronik adalah mesin otomatis yang berfungsi sebagai titik layanan mandiri bagi nasabah untuk melakukan transaksi keuangan tanpa harus melalui bank.
Di tengah penurunan tersebut, BCA justru menambah infrastruktur mesin. Hera memaparkan per Desember 2025, BCA memiliki 20.163 ATM yang tersebar di penjuru Indonesia. Jumlah ATM BCA tersebut naik 620 unit dibandingkan posisi setahun lalu yang berjumlah 19.543.
Mayoritas mesin ATM BCA merupakan jenis Cash Recycling Machine (CRM) yang dapat digunakan untuk tarik dan setor tunai, transfer, payment, dan lain-lain. Menurut Hera, keberadaan ATM, khususnya ATM setor-tarik, masih dibutuhkan masyarakat terutama yang memiliki mobilitas tinggi.
Sejalan menambah jumlah ATM, BCA juga berinvestasi jangka panjang. Dengan memperkuat ekosistem hybrid banking, dari kanal mobile dan internet banking, point of sales, kantor cabang, ATM, hingga contact center. ” Kami memproyeksikan penggunaan mesin ATM akan terus tumbuh ke depannya selaras dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujar Hera.
Sebelumnya Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae memprediksi tren penyusutan jumlah ATM itu berlanjut. Hal itu seiring dengan adopsi teknologi, efisiensi biaya perbankan, dan perubahan kebutuhan masyarakat.
Meski demikian ia menilai penyusutannya tergantung dari keputusan perbankan. “Jumlah ATM yang secara tren mengalami penurunan pada dasarnya merupakan langkah yang dilakukan berdasarkan keputusan bisnis masing-masing bank,” ucapnya lewat keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 29 Januari 2026.
Pilihan Editor: Bagaimana Bunga Utang Makin Membebani APBN
