
MENTERI Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengumumkan realisasi investasi sepanjang 2025 sebesar Rp 1.931,2 triliun. Nilai investasi tersebut utamanya berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 1.030,3 triliun atau berkontribusi 53,4 persen terhadap total investasi 2025.
Sementara itu sisanya atau Rp 900,9 triliun berasal dari penanaman modal asing atau PMA. “Sebetulnya bukan PMA-nya yang melambat kalau saya melihatnya. Dalam negerinya yang lebih cepat,” kata Rosan di Jakarta pada Kamis, 15 Januari 2026.
Ia pun memproyeksikan pertumbuhan investasi dalam negeri akan meningkat lebih tinggi dan menyaingi investasi asing pada tahun ini. Menurut Rosan, hal itu disebabkan karena keterlibatan BPI Danantara yang terjun berinvestasi di sejumlah sektor mulai dari kimia hingga kesehatan.
Ia pun menyontohkan keterlibatan Danantara dalam proyek waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi sumber energi yang proses pembangunannya akan mulai dikerjakan pada Maret tahun ini. Untuk bergabung dalam proyek ini, Rosan menyatakan Danantara mewajibkan calon investor untuk mengajak investor dalam negeri dan asing untuk masuk. “Walaupun kita yang nge-drive, tapi kita mengajak dunia usaha juga karena kita ingin semuanya itu tumbuh bersama-sama, berkembangnya juga bersama-sama,” tutur dia.
Adapun PMA sepanjang 2025 tercatat Rp 900,9 triliun atau 46,6 persen dari total investasi. Jumlah itu meningkat 0,1 persen secara tahunan. Berdasarkan negara, Singapura kembali menjadi negara asal investor dengan jumlah penanaman modal terbanyak di Indonesia. Nilai investasi dari Singapura ke Indonesia pada 2025 mencapai US$ 17,4 miliar. Hong Kong berada di posisi kedua dengan nilai investasi ke Indonesia sebesar US$ 10,6 miliar.
Adapun Cina berada di posisi ketiga dengan investasi US$ 7,5 miliar. Sementara Malaysia sebesar US$ 4,5 miliar. Setelah itu disusul Jepang dengan US$ 3,1 miliar.
Berdasarkan wilayah, Rosan mengungkapkan penanaman modal asing sepanjang 2025 paling banyak dilakukan di Jawa Barat senilai US$ 9,2 miliar. Kemudian Sulawesi Tengah sebesar US$ 7,4 miliar, Jakarta sebesar US$ 6,0 miliar, Maluku Utara senilai US$ 5,2 miliar, dan Banten sebesar US$ 3,6 miliar.
Para investor asing utamanya menanamkan modal untuk lima subsektor. Adapun subsektor yang paling banyak mendapat modal asing adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan nilai US$ 14,6 miliar atau 26,0 persen dari total. Kemudian disusul pertambangan seni;ai US$ 4,7 miliar, jasa lainnya sebesar US$ 4,5 miliar, industri kimia dan farmasi senilai US$ 3,8 miliar, serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar US$ 3,3 miliar.
Pilihan Editor: Emiten Bersolek, Indeks Saham Terkerek
