
PENELITI dari Center of Reform On Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, mengatakan harga Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram memengaruhi kenaikan harga beras meski akhir Desember 2025 sudah dinyatakan swasembada beras. Sebelumnya harga tersebut berada di sekitar Rp 5 ribu per kilogram. “Ketika ada kenaikan harga gabah, berarti ada kenaikan biaya modal kalau bagi penggilingan,” katanya saat dihubungi pada Kamis, 8 Januari 2026.
Menurut Eliza, harga di tingkat konsumen juga akan naik menyesuaikan karena konsumen di level menengah akan menjaga nilai keuntungan penjualan. Meski demikian ada sisi positif dan negatifnya, yaitu kesejahteraan petani meningkat karena nilai tukar petani sebelumnya rendah, tapi konsekuensi harga di tingkat konsumen akan naik.
Dia menganggap konsumen kalangan menengah ke atas tidak masalah jika harga beras naik karena ada penyesuaian harga gabah. Persoalannya adalah konsumen menengah ke bawah karena pendapatan mereka tidak ada penyesuaian seiring dengan inflasi, daya beli pun semakin tergerus.“Apalagi kalangan menengah ke bawah mengeluarkan porsi hampir 60 persen untuk bahan makanan, ketika kenaikan harga beras sedikit pun sangat terasa,” ucap Eliza.
Menurutnya, pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah menjaga kesejahteraan petani dan menjaga daya beli konsumen menengah ke bawah. Maka beras yang diserap melalui Badan Urusan Logistik (Bulog), yaitu cadangan beras pemerintah, harus disalurkan secara optimal melalui operasi pasar yang luas di berbagai titik.
Operasi pasar itu tidak perlu ke wilayah pasar induk yang konsumennya memiliki daya beli tinggi. Seiring berjalannya operasi, pemerintah perlu menyalurkan dengan kemasan beras lebih kecil antara 1-2 kilogram, menggantikan ukuran kemasan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang berbobot 5 kilogram.
Persoalan lain, kata Eliza, Bulog harus segera menyalurkan stok yang ada dan tidak menumpuk lama. “Agar masyarakat menengah ke bawah ini tidak kecewa karena mereka juga berhak mendapatkan beras yang layak konsumsi yang masih berkualitas,” tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada beras pada akhir 2025. Menurutnya ini pencapaian paling cepat dari rencana sebelumnya hingga empat tahun. “Target empat tahun, kita bisa capai dalam waktu satu tahun,” ujarnya pada Senin, 5 Januari 2026.
Meski dinyatakan swasembada, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga beras di tingkat eceran, grosir, hingga penggilingan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, rata-rata harga beras per Desember 2025 naik dibandingkan Desember 2024.
“Harga beras yang kami sampaikan ini merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia,” katanya dalam konferensi pers BPS pada Senin, 5 Januari 2026.
BPS mencatat rata-rata harga beras eceran pada Desember 2025 sebesar Rp 15.061 per kilogram. Angkanya naik 3,68 persen jika dibandingkan pada Desember 2024.
Kemudian di tingkat grosir, rata-rata harga beras pada Desember 2025 sebesar Rp 14.162 per kilogram. Angkanya naik 5 persen jika dibandingkan pada Desember 2024.
Di tingkat penggilingan, rata-rata harga beras pada Desember 2025 sebesar Rp 13.488 per kilogram. Angkanya naik 6,38 persen jika dibandingkan pada Desember 2024.
Pilihan Editor: Inflasi Naik di Tengah Daya Beli Masyarakat yang Lesu
