Gadai BPKB

8013ddc9256f6cc9b48866e208743264

Pengusaha minta tarif resiprokal produk alas kaki nol persen

AA1TuKmG

ASOSIASI Persepatuan Indonesia (Asprisindo) mendukung langkah pemerintah mengupayakan menekan tarif resiprokal Amerika Serikat jauh di bawah 19 persen untuk produk alas kaki.

“Tarif resiprokal ke AS diupayakan lebih rendah mencapai 0 persen atau harus di bawah jauh angka saat ini 19 persen,” kata Direktur Eksekutif Asprisindo Yoseph Billie Dosiwoda melalui keterangan tertulis pada Sabtu, 3 Januari 2026.

Ia mendesak agar besaran tarif Trump atas produk alas kaki lokal lebih rendah dari negara pesaing lainnya seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, dan Cina. Yoseph pun memetakan alasan dari urgensi pengurangan besaran tarif resiprokal Indonesia dibandingkan negara pesaing.

Pertama, soal pengupahan. Yoseph mencontohkan Vietnam yang selama dua tahun tidak menaikkan upah pekerja. Urgensi kedua adalah tingginya biaya produksi baik harga listrik dan gas, importasi bahan baku, sertifikasi mesin, hingga pajak pertambahan nilai (PPN).

Urgensi terakhir adalah potensi perluasan pasar di negara selain Amerika Serikat. Yoseph menyoroti perjanjian dagang antara Indonesia dan negara lainnya seperti IEU-CEPA yang memberikan bebas tarif impor tetapi belum berlaku hingga 2027.

Yoseph berharap pemerintah bisa melindungi industri alas kaki dalam negeri sehingga bisa bersaing secara kompetitif di pasar global. Sebagai gambaran, dia menjelaskan kondisi industri alas sepatu ketika tarif Trump sebesar 19 persen berlaku pada 7 Agustus 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, kata Yoseph, ekspor alas kaki ke Amerika periode Agustus-September 2025 turun menjadi 23,14 persen. “Dampak tarif masuk ke AS menyebabkan penurunan pesanan,” kata Yoseph.

Penurunan jumlah pesanan, ujar Yoseph, mengancam produktivitas yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Yoseph mengatakan ancaman PHK sangat dihindari para pelaku industri alas kaki meskipun sudah terjadi di sektor lain, seperti tekstil.

Karena itu, Yoseph mengatakan, tarif resiprokal lebih rendah dari negara pesaing dibutuhkan untuk menyelamatkan produktivitas serapan tenaga kerja dan menghindari fenomena sunset industry.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Haratarto mengatakan kesepakatan tarif dagang Indonesia dan Amerika Serikat ditargetkan selesai pada awal 2026. Ia mengatakan, Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump diharapkan sudah bisa menandatangani dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) pada akhir Januari 2026.

“Saat ini pihak Amerika sedang mengatur waktu yang tepat untuk rencana pertemuan antara kedua pemimpin tersebut,” ucap Airlangga dalam konferensi pers daring dari Washington, D.C., Amerika Serikat, pada Senin, 3 Desember 2025 waktu Jakarta. Perkembangan ini dilaporkan Airlangga setelah bertemu dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States Trade Representative (USTR).

Anastasya Lavenia Yudi berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Seberapa Besar Peluang Pemerintah Mencapai Target Pajak 2026