
PENGAMAT mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas sekitar Rp 2.280.000 hingga Rp 2.430.000 per gram dalam sepekan ke depan. Naik turunnya harga emas masih dipengaruhi oleh faktor geopolitik hingga soal isu penggantian kepemimpinan di bank sentral Amerika Serikat, yaitu Federal Reserve (The Fed).
“Dalam satu minggu kemungkinan besar, seandainya turun, logam mulia itu di harga Rp 2.280.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu, 7 Desember 2025.
Angka tersebut mengacu pada perkiraan harga emas dunia US$ 4.050 per troy ounce. Jika harganya naik menjadi US$ 4.271 per troy ounce, maka harga emas di Indonesia sekitar Rp 2.430.000.
Sebelumnya, harga emas batangan dari PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada Sabtu, 6 Desember 2025 seharga Rp 2.404.000 per gram. Harganya turun dari Rp 2.406.000 per gram pada Kamis dan pada Jumat lalu sebesar Rp 2.407.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan, Kevin Hasset akan ditunjuk oleh Presiden Donald Trump sebagai Ketua The Fed untuk menggantikan Jerome Powell pada Mei tahun depan. Di sisi lain, bank sentral Amerika Serikat juga kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga 25 basis point atau 0,25 persen.
“Yang ditunggu oleh pasar sebenarnya bukan penurunan suku bunga, tetapi seberapa jauh di tahun 2026 bank sentral Amerika itu akan menurunkan suku bunga,” ucapnya.
Persoalan geopolitik di Eropa antara Rusia dan Ukraina juga masih panas. Konflik perebutan wilayah oleh kedua negara masih terjadi, seperti penyerangan terhadap instalasi sumber energi di Rusia.
Di wilayah laut Asia Timur, kata Ibrahim, latihan perang yang dilakukan oleh Cina di perbatasan dengan Taiwan cukup menambah ketegangan kedua negara. Kemudian di Amerika Selatan, konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela juga turut mempengaruhi harga emas.
“Ketegangan-ketegangan inilah yang membuat saya masih optimis bahwa harga emas dunia sampai akhir tahun akan kembali mengalami penguatan,” tuturnya.
Akibat faktor geopolitik tersebut, Ibrahim memprediksi harga emas bisa menyentuh US$ 4.400 per troy ounce apabila konflik terus memanas. Namun, perkembangan harga tetap harus melihat situasi ke depan sampai akhir tahun.
Pilihan Editor: Agresif Memungut Bea Ekspor Mineral
