
KEPALA Ekonom dan Riset PT Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubrito yakin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai level 10.500 pada tahun ini seiring tren positif yang dicatatkan sejak awal 2026. Pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, IHSG ditutup dengan memecahkan rekor tertinggi atau all-time-high (ATH) di level 9.032,58.
Menurut Rully, dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS. Ia menyebut hal ini berpotensi berlanjut seiring dengan penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully dalam keterangan resmi pada Rabu, 14 januari 2026.
Selain itu, kata Rullu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Ia menuturkan, sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level 16.800 per dolar AS sejak April 2025.
Menurut Rully, kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026 mendatang.
Rully berpendapat bahwa dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan. “Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500,” ucapnya.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan IHSG yang berhasil menembus level 9.032,58 mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional di tahun 2026. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, sepanjang 2025 pasar modal Indonesia mencatatkan berbagai rekor tertinggi, antara lain jumlah investor yang mencapai 20,3 juta serta pencatatan 26 saham baru dengan total dana yang dihimpun melalui Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 18,1 triliun.
Kautsar juga mengatakan aktivitas perdagangan sepanjang 2025 menunjukkan tren yang kuat, dengan IHSG mencatatkan 24 kali rekor ATH. “Pencapaian tersebut menegaskan posisi pasar modal Indonesia yang semakin resilien dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat peran BEI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” ucapnya dalam siaran pers pada Rabu, 14 Januari 2026.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi menilai menilai harapan indeks tembus ke level 10.000 pada tahun ini perlu ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang solid serta peran investor domestik.
“Tentunya, bilamana fundamental ekonomi Indonesia itu solid dan peran investor domestik meningkat, rasanya level tersebut bukan tidak mungkin untuk dapat tercapai,” ujar Inarno dalam konferensi pers secara daring di Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026, seperti dikutip dari Antara.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya untuk mencermati bahwa pergerakan indeks, selain dipengaruhi oleh faktor fundamental emiten itu sendiri, juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, baik dari domestik maupun global. Keputusan dalam berinvestasi tetap perlu diiringi dengan kewaspadaan serta pengelolaan risiko yang baik.
Dari sisi regulator, OJK terus memastikan bahwa pasar berjalan secara teratur, wajar dan efisien. “Kami juga mendorong terciptanya ekosistem pasar modal yang sehat, berintegritas agar potensi pertumbuhan indeks maupun instrumen lainnya bisa tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya karena momentum jangka pendek,” ucapnya.
Sejumlah kebijakan di pasar saham yang juga perlu menjadi perhatian antara lain peningkatan kualitas emiten melalui penyesuaian aturan batas free float saham serta peningkatan peran investor institusi baik global maupun domestik.
Pilihan Editor: Penipuan Love Scamming Naik. Bagaimana Menghindarinya?
