
KAMAR Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 5 persen menjadi modal awal untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen pada 2029. Namun, percepatan tersebut masih sangat bergantung pada peningkatan produktivitas nasional, terutama di tengah perbandingan dengan Vietnam yang telah mencatatkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2025.
“Pengusaha Indonesia siap bersaing dan terus berinvestasi, terbukti dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025 dan kontribusi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri sepanjang 2025 yang lebih besar dibandingkan Penanaman Modal Asing, bahkan tumbuh 26,6 persen secara tahunan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional Bayu Priawan Djokosoetono dalam keterangan resmi, Ahad, 8 Februari 2026.
Dari sisi suplai, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Pada kuartal IV 2025, sektor manufaktur tumbuh 5,40 persen secara tahunan. Indeks Manufaktur PMI Indonesia juga berada di zona ekspansi sejak Agustus 2025 dan mencapai level 52,6 pada Januari 2026.
Kadin mencatat perlunya penguatan kebijakan untuk menjaga ekosistem industri dalam negeri. Bayu menyebut peningkatan produktivitas industri nasional perlu dibarengi dengan perlindungan terhadap investasi domestik serta pengawasan terhadap masuknya produk impor dengan praktik dumping atau harga predator yang berpotensi melemahkan industri lokal.
Sektor pertanian yang menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional tercatat tumbuh 5,14 persen pada kuartal IV 2025. Namun, kontribusi sektor ini dinilai belum sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang terserap. Sekitar 28 persen tenaga kerja nasional bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, tetapi hanya menyumbang sekitar 13 persen terhadap PDB nasional.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin Indonesia Frans Tambunan menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan rendahnya produktivitas sektor pertanian. Ia menyebut perlunya modernisasi pertanian melalui inovasi teknologi, optimalisasi lahan, serta pengembangan sektor perikanan guna meningkatkan nilai tambah dan produksi pangan nasional.
Sementara itu, sektor konstruksi yang berkontribusi hampir 10 persen terhadap perekonomian hanya tumbuh 3,81 persen pada kuartal IV 2025. Perlambatan ini sejalan dengan belanja pemerintah yang tumbuh 4,55 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal III 2025 sebesar 5,66 persen.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Kadin Indonesia Ikhwan Primanda menyebut perlunya dorongan lanjutan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan, renovasi sekolah, serta pembangunan infrastruktur untuk memperkuat pertumbuhan sektor konstruksi dan real estate yang memiliki keterkaitan luas dengan industri lain.
Dari sisi permintaan, perekonomian Indonesia masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang 53,88 persen terhadap PDB. Pada kuartal IV 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen, didorong oleh paket stimulus ekonomi 8+4+5 serta momentum libur Natal dan Tahun Baru.
Kadin mencatat ekspor Indonesia pada kuartal IV 2025 hanya tumbuh 3,25 persen, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 9,14 persen. Perlambatan ekspor tersebut, bersamaan dengan pertumbuhan suplai industri pengolahan yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi domestik, memunculkan risiko penumpukan persediaan produk jadi di pasar domestik.
Pilihan Editor: Bagaimana Trik Emiten Menggoreng Saham
