
AIRASIA Aviation Group memastikan operasional penerbangannya telah kembali normal setelah ada peringatan Emergency Airworthiness Directive (EAD) yang diterbitkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA) pada Jumat, 28 November 2025. AirAsia memastikan persyaratan dalam EAD tersebut telah diselesaikan.
“Tim AirAsia di seluruh wilayah bergerak serentak untuk memenuhi semua persyaratan teknis, operasional, keselamatan, dan pengalaman pelanggan guna meminimalkan gangguan bagi para penumpang,” kata Chief Executive Officer (CEO) AirAsia Aviation Group Bo Lingam melalui situs resmi AirAsia pada Minggu, 30 November 2025.
Lingam mengatakan seluruh ketentuan regulator telah dipenuhi dalam waktu 24 jam, dengan bantuan teknisi dari Asia Digital Engineering. Proses penyelesaian dilaksanakan melalui koordinasi lintas departemen, mencakup Engineering, Flight Operations, Network, Ground Operations, serta Customer Experience di Malaysia, Thailand, Filipina, Indonesia, dan Kamboja.
AirAsia akan memonitor perkembangan dan memastikan kenyamanan serta keselamatan seluruh penumpang. Sebelumnya, Indonesia AirAsia juga memastikan unit pesawat Airbus A320 tetap layak dan aman untuk beroperasi.
AirAsia Aviation Group memulai proses implementasi rollback terhadap komponen perangkat lunak tertentu mulai 29 November 2025. Pelaksana tugas Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin Abdurachman mengatakan, hasil verifikasi memastikan bahwa komponen perangkat lunak spesifik yang menjadi objek EAD EASA tidak terpasang (not embodied) pada pesawat Indonesia AirAsia.
“Oleh karena itu, seluruh pesawat Indonesia AirAsia dinyatakan tetap layak dan aman untuk beroperasi, dan tidak memerlukan proses rollback perangkat lunak,” ucap Achmad Sadikin pada Sabtu, 29 November 2025.
Sebelumnya, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa atau EASA mengeluarkan peringatan untuk mengatasi kerentanan yang diperkenalkan dalam pembaruan perangkat lunak di salah satu komputer on board-nya. Masalah tersebut awalnya diketahui dari penerbangan maskapai JetBlue 1230 pada 30 Oktober 2025, karena pesawat A320 tiba-tiba mengalami penurunan ketinggian akibat gangguan teknis.
Airbus menyatakan bahwa radiasi matahari yang intens dapat merusak data penting untuk fungsi kontrol penerbangan. Sejumlah pesawat tipe A320 yang beroperasi saat ini kemungkinan terkena dampak.
Produsen pesawat asal Prancis tersebut berkoordinasi dengan otoritas penerbangan untuk meminta tindakan pencegahan segera dari operator melalui Alert Operators Transmission (AOT) untuk perlindungan perangkat lunak dan/atau perangkat keras yang tersedia dan memastikan armada aman terbang.
“Airbus mengakui rekomendasi ini akan menyebabkan gangguan operasional bagi penumpang dan pelanggan,” tulis Airbus dalam situs resminya pada Kamis, 28 November 2025.
Atas penemuan ini, Airbus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Airbus akan bekerja sama dengan para operator dan tetap menjaga penerbangan tetap aman.
Pilihan Editor: Bisakah Modal Segar Danantara Menyehatkan Garuda Indonesia
