
JUMLAH penjualan mobil di Malaysia secara keseluruhan mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir dari 2023 hingga 2025. Presiden Malaysian Automotive Association (MAA) Mohd Shamsor Mohd Zain mengatakan pencapaian ini merupakan yang tertinggi selama dua tahun berturut-turut dengan jumlah penjualan lebih dari 800 ribu unit.
Menurut dia, kondisi tersebut didukung oleh permintaan konsumen yang tinggi dan pembiayaan yang kondusif. “Serta peningkatan penerimaan terhadap kendaraan elektrifikasi, yang mencerminkan ketangguhan industri dan transisi berkelanjutan menuju mobilitas yang lebih maju dan ramah lingkungan,” dikutip dari situs MAA pada Senin, 16 Februari 2026.
Penjualan mobil di Malaysia pada 2023 sebanyak 799.731 unit. Lalu penjualan keseluruhan pada 2024 naik menjadi 816.747 unit dan meningkat pada 2025 menjadi 820.752 unit.
Menurut analisis MAA, penjualan meningkat karena Pendapatan Domestik Bruto (PDB) meningkat 4,7 persen pada kuartal I 2025. Suku bunga kebijakan atau overnight policy rate turun menjadi 2,75 persen sejak Juli 2025 dan meningkatkan keterjangkauan kredit.
Selain itu, lingkungan sosial dan politik stabil dan tingkat pengangguran hanya 2,9 persen yang merupakan titik terendah dalam 11 tahun di Malaysia. Lalu penjualan mobil listrik meningkat 78 persen, termasuk dari merek nasional.
Berbeda dengan di Indonesia yang justru mengalami penurunan baik dari penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) maupun ritel (dari dealer ke konsumen). Mengutip dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan secara wholesales sebanyak 1.005.802 unit pada 2023, sedangkan penjualan ritel sebanyak 998.059 unit.
Jumlahnya menurun menjadi 865.723 unit menurut penjualan secara wholesales dan penjualan ritel 889.680 unit pada 2024. Penjualan mobil juga kembali merosot menjadi 803.687 unit secara wholesales dan penjualan ritel 833.712 unit pada 2025.
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai daya beli masyarakat yang lemah pada 2025 memengaruhi penjualan di semua merek dan jenis mobil. Meski pertengahan tahun lesu, penjualan mobil listrik pada akhir tahun justru meningkat karena insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPnDTP) yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2025 akan berakhir.
“Daya beli masyarakat kita ini juga diakibatkan karena memang pendapatan per kapita hari ini masih di US$ 5.300,” katanya dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, pada Selasa, 10 Februari 2026.
Dengan demikian, kata Jongkie, calon pembeli akan mempertimbangkan mobil mana yang bisa dicicil, terutama di harga kurang dari Rp 300 juta per unit. Jika harga lebih dari Rp 300 juta per unit, pasarnya memang tidak lebih banyak.
Pada 2026, Gaikindo menargetkan kenaikan penjualan mobil sebanyak 850 ribu unit. Jumlah tersebut lebih tinggi dari target revisi pada 2025 berjumlah 780 ribu unit, sebelumnya 900 ribu unit.
Pilihan Editor: Sudah Saatnya Insentif Mobil Listrik Disetop
