Gadai BPKB

c37e427f5df2d3dbf050eaf0b6dad376

Kata Masyarakat Transportasi soal Rencana Kereta Kilat Bandung-Jakarta

AA1R9YPE

KETUA Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian MTI Aditya Dwi Laksana menilai tidak ada urgensi pemerintah membangun Kereta Kilat Padjadjaran. “Apalagi sudah tersedia Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung Whoosh,” kata Aditya saat dihubungi, pada Ahad, 30 November 2025.

Kereta Kilat Pajajaran merupakan proyek besar perkeretaapian yang diusung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dengan menggandeng PT Kereta Api Indonesia (Persero), Dedi meminta badan usaha negara di bidang transportasi itu mengembangkan kereta yang dapat memangkas waktu tempuh perjalanan Jakarta-Bandung.

Dedi mengatakan Kereta Kilat Padjadjaran akan menghubungkan Jakarta-Bandung dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. la bahkan menargetkan durasi perjalanan Jakarta-Bandung bisa ditempuh selama satu jam menggunakan kereta tersebut.

Dengan demikian, waktu tempuh perjalanan Jakarta-Bandung menggunakan kereta Kilat Padjadjaran akan lebih cepat dibanding dengan kereta api reguler, seperti Kereta Api Parahyangan, yang memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan.

Aditya menyepakati rencana pemerintah memangkas waktu tempuh kereta api di ruas Jakarta-Bandung di jalur konvensional. Sebab saat ini durasi perjalanan dua provinsi tersebut memakan waktu sekitar dua jam 30 menit.

Namun Aditya mengingatkan upaya efisiensi waktu tempuh perjalanan juga perlu dibarengi dengan revitalisasi yang signifikan yang menelan biaya besar. Dengan pertimbangan biaya tersebut, Aditya menilai tidak ada urgensi yang mendesak dalam proyek Kereta Kilat Padjadjaran.

Menurut Aditya, Indonesia telah memiliki Whoosh sebagai armada kereta api cepat untuk perjalanan Jakarta menuju Bandung. “Meski tidak langsung menghubungkan antara pusat Kota Bandung dan Jakarta,” tutur dia.

Ketimbang mengembangkan proyek kereta cepat baru, Aditya menilai ada urgensi lain yang perlu dipertimbangkan pemerintah. Menurut dia, pemerintah seharusnya menyediakan kereta api yang melayani lebih banyak stasiun di ruas antara Jakarta-Bandung untuk meningkatkan mobilitas masyarakat. Stasiun yang dimaksud misalnya Cikarang, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Plered, dan Padalarang. “Tidak semata untuk meningkatkan kecepatan,” kata dia.

Aditya kemudian menambahkan sejumlah urgensi lain untuk dipertimbangkan pemerintah. Ia menyarankan agar pemerintah fokus menambah panjang jalur ganda di ruas Purwakarta-Padalarang. Tujuannya agar kereta api tidak perlu berhenti ketika terjadi persilangan.

Selain itu, Aditya mendorong pemerintah mengurangi jumlah dan radius lengkungan jalur sehingga kecepatan kereta api bertambah.

Catatan lain adalah agar pemerintah meneruskan pembangunan jalur rel dwiganda sampai Cikarang hingga lanjut ke Karawang atau Cikampek. Tujuannya agar ada jalur terpisah antara KRL dengan kereta api jarak jauh. Dengan demikian, waktu tempuh perjalanan dapat ditekan hingga maksimal dua jam perjalanan.

Kereta Kilat Padjadjaran menjadi salah satu dari kesepakatan yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Optimalisasi Penyelenggaraan dan Pengembangan Perkeretaapian di Jawa Barat. Perjanjian tersebut diteken antara Pemerinta Provinsi Jawa Barat dan PT KAI pada Selasa, 25 November 2025. “Kilat Padjadjaran akan memangkas waktu tempuh relatif sangat cepat, Gambir–Bandung menjadi sekitar satu setengah jam,” kata Dedi Mulyadi.

Pilihan Editor: Ambisi Besar Kereta Kilat Padjadjaran Dedi Mulyadi