Gadai BPKB

2faac47be9707ff190f0a1314d1a5f79

Survei BI: Penjualan Hunian di Triwulan 3 Mengalami Kontraksi 1,29 Persen

AA1PVfMt

SURVEI Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) menunjukan penjualan hunian pada triwulan III 2025 masih mengalami kontraksi. Penghambat dan pengembangan penjualan di antaranya harga bahan bangunan yang melambung hingga suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Penjualan properti residensial mengalami kontraksi 1,29 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya (yoy). Meski demikian, kontraksi tersebut membaik dari triwulan kedua yang mengalami kontraksi 3,80 persen.

“Perkembangan penjualan rumah primer yang masih menurun tersebut dipengaruhi oleh penjualan rumah tipe besar yang terkontraksi 23 persen (yoy), lebih dalam dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 14,95 persen (yoy),” demikian dikutip dari rilis SHPR BI, Kamis, 6 November 2025.

Penjualan rumah tipe menengah juga masih mengalami kontraksi sebesar 12,27 persen, meski tidak sedalam kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 17,69 persen. Sedangkan penjualan rumah tipe kecil meningkat sebesar 14,95 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 6,70 persen.

Berdasarkan hasil survei BI, kenaikan harga bahan bangunan jadi penghambat utama pengembangan dan penjualan properti residensial primer dengan kontribusi 19,80 persen. Penyebab kedua adalah masalah perizinan atau birokrasi dengan porsi 14,39 persen. Penghambat tertinggi ketiga adalah suku bunga KPR dengan porsi 15,05 persen.

Selanjutnya, disebabkan proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR dengan porsi 11,75 persen. Terakhir, imbas masalah perpajakan dengan porsi 8,84 persen.

Data survei Bank Indonesia mamaparkan suku bunga KPR pada triwulan ketiga 2025 adalah sebesar 7,45 persen, naik dibandingkan triwulan sebelumnya di kisaran 7,41 persen. Pada triwulan III tahun lalu suku bunga KPR tercatat 7,44 persen.

Pilihan Editor: Mengapa Penjualan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak