
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang 2025 mencapai 15,4 juta atau melonjak dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, angkanya masih belum menyamai level kunjungan sebelum pandemi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono capaian kunjungan wisman di tahun lalu merupakan capaian tertinggi dalam 6 tahun terakhir atau sejak tahun 2020. “Namun, ini masih sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2019,” ucapnya dalam konferensi pers di kantor BPS, Selasa, 2 Februari 2026.
Data BPS melaporkan pada 2019 lalu turis asing yang melancong ke Indonesia mencapai 16,1 juta. Angkanya merosot signifikan jadi 4,05 juta kunjungan pada 2020. Di tahun 2021 hanya 1,55 juta wisman yang datang. Kunjungan wisatawan asing mulai naik bertahap jadi 5 juta pada 2022 dan 11,6 juta pada 2023. Adapun pada 2024, turis luar negeri yang datang ke Indonesia sebanyak 13,88 juta.
Pada 2025 angkanya melonjak 10,80 persen menjadi 15,4 juta. Berdasarkan kebangsaan, kunjungan wisman didominasi asal Malaysia yakni 17,3 persen dari total. Terbanyak kedua dari Singapura dan Australia masing-masing sebesar 14,5 dan 11 persen.
Dari sekitar 15,4 juta kunjungan wisman ke Indonesia, sekitar 6,4 juta di antaranya berasal dari kawasan Asia atau 41,3 persen. Menurut Ateng, angkanya mengalami peningkatan tertinggi yaitu naik 32,8 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024. Namun kunjungan wisman di luar Asia turun 9,2 persen.
Meski jumlah turis asal Asia naik, pengeluaran terbesar justru didapat dari turis asal kawasan Eropa. Wisatawan Asia rata-rata hanya menghabiskan sekitar US$ 661,91 per kunjungan, sedangkan pelancong asal Eropa belanja rata-ratanya mencapai US$ 1.916,5.
Secara total, wisatawan asing di Indonesia menghabiskan uang rata-rata US$ 1.267 atau Rp 21,2 juta tiap kunjungan. Pengeluaran tertinggi untuk akomodasi, lalu untuk makan dan minum serta belanja cenderamata.
Pilihan Editor: Dua Sisi Lonjakan Jumlah Wisatawan di Yogyakarta
