Categories: Politics

KKP: Proyek sentra garam di NTT butuh bantuan swasta

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali melanjutkan proyek pembangunan kawasan sentra industri garam di lahan seluas 12.597 hektare, di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tahun ini.

Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Frista Yorhanita memperkirakan sentra produksi itu dapat menghasilkan 200 ton garam per hektare.

Ia menjelaskan kementeriannya hanya akan menggarap dua dari total 10 zona dengan luas sekitar 10 ribu sampai 13 ribu hektare lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai tambak garam. Dengan pengelolaan 10 ribu hektare itu, Frista memperkirakan terdapat 400 ribu ton garam yang diproduksi per tahun.

Sementara itu terdapat delapan zona yang akan diserahkan kepada perusahaan swasta, salah satunya adalah PT Garam. Frista mengatakan pemerintah tidak mampu mengelola seluruh kawasan karena menimbang kemampuan APBN. “Tidak mungkin semuanya dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Makanya ini ada PT Garam,” kata Frista, di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Frista menjelaskan, produksi garam dalam negeri yang membutuhkan proses evaporasi atau penguapan dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Dengan demikian di musim penghujan petambak garam tidak bisa berproduksi.

Oleh sebab itu, menurut dia, pengembangan teknologi untuk mempercepat evaporasi tanpa meredupkan keberlangsungan petambak garam menjadi penting. “Kita buat teknologi yang mempercepat evaporasi tapi tetap menggabungkan dengan proses tradisional,” tuturnya. Ia mengatakan, nantinya PT Garam akan mengembangkan teknologi evaporasi untuk produksi garam.

Frista mengatakan proyek sentra garam merupakan upaya pemerintah mewujudkan swasembada garam pada 2027. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan kebutuhan garam industri hingga 2027 mencapai 4,9 sampai dengan 5,2 juta ton. Kendati demikian, 60 persen kebutuhan garam industri masih impor.

Dalam pengembangan kawasan industri garam dI Rote, Frista mengatakan proyek tersebut tidak cukup mengandalkan satu investor yakni PT Garam. Dengan demikian, kata Frista, penting bagi pemerintah untuk menggandeng investor lain untuk terlibat dan mewujudkan swasembada garam. Dengan bantuan swasta pada proyek tersebut, Frista optimistis target swasembada garam pada 2027 dapat tercapai.

Pilihan Editor: Mengapa Impor Garam dan Gula Sulit Disetop

Published by
admin