Categories: Finance

Sumatra Barat Kembali Ekspor 27 Ton Gambir ke India

SUMATRA Barat mengekspor satu kontainer atau 27 ton komoditas gambir ke India pada Selasa, 18 November 2025. Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas langsung pengiriman komoditas unggulan itu bersama Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah.

Mahyeldi memaparkan pemanfaatan lahan untuk gambir di Sumatra Barat terjadi peningkatan dari 28.737 hektare pada 2023 menjadi 28.760 hektare pada 2024. Produksi juga naik dari 24.341 ton menjadi 25.818 ton dengan produktivitas 0,9 ton per hektar.

Tercatat pada 2022, ekspor gambir mencapai 13.089 ton dengan nilai Rp 548,5 miliar. Lalu pada 2023 turun menjadi Rp 534,7 miliar namun memasuki 2024 kembali meningkat menjadi Rp 574,7 miliar.

Menurut Mahyeldi, perubahan kondisi di India langsung berdampak pada petani gambir di kampung dan nagari di Sumbar. “Fluktuasi ini mencerminkan sensitivitas pasar gambir terhadap situasi global. Apalagi 80 persen ekspor kita masih tertuju ke India,” ujar Mahyeldi.

Ia mengatakan salah satu kendala ekspor di Sumatra Barat ialah perihal Pelabuhan Teluk Bayur yang masih memiliki keterbatasan kapasitas, ketersediaan kapal yang belum optimal, dan tingginya biaya freight (muatan). Hal itu membuat sebagian eksportir memilih Pelabuhan Belawan atau Tanjung Priok. “Akibatnya, secara statistik, kinerja ekspor Sumbar terlihat rendah dan berdampak pada perhatian pemerintah pusat,” katanya.

Mahyeldi mengharapkan tiga dukungan dari Kementerian Perdagangan. Ketiganya ialah penataan tata niaga ekspor gambir yang berpihak pada petani, percepatan penyelesaian HS Code produk turunan gambir, dan penguatan fasilitas perluasan pasar agar tidak bergantung pada satu negara.

“Sumbar memasok 80 persen kebutuhan gambir dunia dengan sentra terbesar di Kabupaten Lima Puluh Kota sebanyak 11.360 hektar dan Pesisir Selatan sebanyak 10.490 hektar. Komoditas ini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah dan penopang kesejahteraan ribuan petani,” katanya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan untuk ekspor yang baik sangat penting untuk hilirisasi gambir agar memperluas pasar ekspor ke berbagai negara. Saat ini, ekspor gambir mentah Indonesia masih didominasi oleh satu tujuan ke India.

“Kalau ekspor mentah, yang perlu hanya India untuk proses produksi. Kita harus buat produk jadi seperti sabun, kopi, produk kecantikan, produk kesehatan. Itu yang bisa diekspor ke seluruh dunia,” kata Budi di Padang, Selasa, 18 November 2025, saat melepas ekspor gambir ke India.

Dia juga mendorong agar Sumatra Barat meningkatkan ekspor produk pertanian dan perkebunan. Langkah ini menyusul lonjakan permintaan global terhadap komoditas sektor tersebut. “Permintaan dunia terhadap produk pertanian dan perkebunan Indonesia terus naik,” ujar Mendag Budi di Padang, Selasa, 18 November 2025.

Ia menyebutkan, periode Januari-September 2025, ekspor sektor pertanian dan perkebunan Indonesia meningkat 34 persen. Angka ini menunjukkan peluang besar bagi daerah penghasil komoditas untuk memperluas pasar.

Budi menilai Sumbar memiliki berbagai produk unggulan yang berpotensi ekspor, seperti kopi, pinang, kakao, dan gambir. “Padang punya produk bagus, harus bisa ekspor. Nanti kita kerja bareng-bareng,” katanya.

Kementerian Perdagangan akan memfasilitasi UMKM Sumbar melalui program UMKM Bisa Ekspor. Program ini menyediakan business matching secara online dengan pendampingan pemerintah. Sepanjang Januari-Agustus 2025, transaksi program ini mencapai US$ 130,17 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. “Tahun depan, produk seperti kopi, pinang, kakao harus sudah ekspor,” ujar Budi.

Pemerintah juga membuka akses pasar lewat berbagai perjanjian dagang. Indonesia tengah menyelesaikan perjanjian dengan Uni Eropa, Kanada, Peru, Tunisia, dan negara-negara Eurasia. Perjanjian ini akan menghilangkan hambatan tarif dan non-tarif, memudahkan produk Indonesia menembus pasar global.

Untuk pasar domestik, Kementerian Perdagangan akan memfasilitasi business matching antara produsen dengan jaringan ritel modern. Syaratnya, produk harus berkualitas dan mampu bersaing dengan produk asing.

Pilihan Editor: BGN: Dapur Makan Bergizi Gratis di Jakarta Sedikit karena Harga Tanah Mahal

Published by
admin