Categories: Finance

Profil eks bos Garuda yang kini pimpin PT Humpuss Maritim

PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) merombak jajaran direksi dan dewan komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Mangkuluhur City Tower One, Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026. Keputusan rapat tersebut salah satunya mengangkat I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai Direktur Utama, menggantikan Tirta Hidayat.

Setelah menjabat sebagai direktur utama, Askhara menyatakan bakal membawa HUMI pada pertumbuhan pendapatan yang sehat melalui sinergi grup, pengembangan armada, dan diversifikasi usaha. “HUMI akan berfokus pada pengembangan integrated maritime and energy logistics nasional yang berkelanjutan,” katanya dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia juga menekankan pentingnya efisiensi biaya, pengelolaan pendanaan, dan penguatan keuangan perusahaan tanpa mengabaikan keselamatan dan kualitas layanan. “Kami juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai mitra bisnis dalam satu keluarga besar HUMI Group,” katanya.

Ari Askhara sebelumnya dikenal sebagai mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. RUPSLB emiten perusahaan jasa logistrik tersebut juga menetapkan susunan pengurus baru sebagai berikut:

  • Mahdan sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen, menggantikan A.R. Sofyan
  • Dedi Hudayana sebagai Komisaris, menggantikan Daryono
  • I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai Direktur Utama, menggantikan Tirta Hidayat
  • Indra Yurana Sugiarto sebagai Direktur, menggantikan Dedi Hudayana

Rekam Jejak I Gusti Ngurah Askhara

Askhara bukan nama baru di lingkungan BUMN. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sejak September 2018. Namun masa jabatannya berakhir pada 5 Desember 2019 setelah Menteri BUMN saat itu, Erick, Thohir mencopotnya dari jabatan tersebut.

Pemecatan itu terkait temuan kargo ilegal di pesawat Garuda Indonesia yang dilaporkan Kantor Bea dan Cukai Soekarno-Hatta pada November 2019. Sebelum memimpin Garuda, ia lebih dulu berkarier di sejumlah BUMN.

Ia pernah menjabat Direktur Keuangan PT Pelindo III pada 2014. Tujuh bulan kemudian, ia berpindah ke Garuda Indonesia sebagai Direktur Keuangan. Pada 2016, ia menjadi Direktur Human Capital dan Pengembangan Sistem PT Wijaya Karya (Persero).

Akshara lahir di Jakarta pada 13 Oktober 1971. Ia meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan pendidikan magister di bidang International Finance dan Administrasi Bisnis di Universitas Indonesia.

Selama menjabat sebagai Direktur Utama Garuda, perusahaan sempat dilanda sejumlah kontroversi. Salah satunya terkait laporan keuangan 2018 yang mencatat laba sekitar US$ 5 juta setelah sebelumnya merugi US$ 213 juta pada 2017. Laporan itu dipersoalkan karena mengakui piutang sebagai pendapatan, terkait kerja sama layanan hiburan dan Wi-Fi dengan PT Mahaka Aero Teknologi.

Dua komisaris Garuda saat itu, Chairul Tanjung dan Dony Oskaria, bahkan menolak menandatangani laporan keuangan tersebut. Garuda juga menghadapi masalah dalam kerja sama manajemen dengan Sriwijaya Air. Kerja sama itu berakhir pada November 2019 setelah terjadi perselisihan terkait pembagian keuntungan dan posisi manajemen.

Francisca Christy Rosana berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Mengapa Keuangan Garuda Indonesia Boncos Terus

Published by
admin