Categories: Politics

PGE jembatani Pemda Sulut di proyek panas bumi

PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk (PGE) mendorong pemanfaatan energi panas bumi berkelanjutan di Sulawesi Utara. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui partisipasi aktif perusahaan dalam penjajakan kemitraan antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Selandia Baru yang digelar di Manado, Kamis, 12 Februari 2025.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula mengatakan Sulawesi Utara dan Selandia Baru memiliki kesamaan karakter seperti potensi panas bumi yang besar, kekuatan sektor wisata dan agrikultur, serta latar budaya yang kuat. Salah satu pemanfaatan panas bumi yang dinilai berhasil di provinsi tersebut yakni PLTP Lahendong.

“Kami mendukung pengembangan panas bumi di Lahendong melalui kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan antara institusi riset, universitas, dan sektor industri,” kata Philip dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.

Adapun penjajakan kerja sama ini membuka peluang kolaborasi di sejumlah sektor strategis, mulai dari energi bersih, pariwisata berkelanjutan, pertanian, perdagangan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Menurut Philip, dengan kepemimpinan daerah yang kuat, panas bumi dapat menjadi industri jangkar yang menarik investasi, membentuk klaster industri hijau. Potensi itu juga bisa meningkatkan daya saing regional di tingkat nasional dan kawasan Asia Pasifik,

Sementara itu, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mendorong Sulawesi Utara menjadi pelopor pemanfaatan energi hijau nasional. Eniya mengatakan panas bumi tidak hanya untuk listrik, tetapi juga untuk kesejahteraan.

Kemitraan dengan Selandia Baru ini diharapkan menghasilkan rencana aksi yang konkret sehingga Sulawesi Utara dapat menjadi provinsi terdepan dalam pembangunan hijau menuju the greenest electricity.

Saat ini, PGE Area Lahendong mengoperasikan enam unit PLTP dengan kapasitas terpasang 120 megawatt (MW), setara sekitar 24 persen kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Operasi tersebut berpotensi menekan emisi hingga 624.000 ton CO2 per tahun. Perusahaan juga tengah mempercepat pengembangan PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 berkapasitas masing-masing 20 MW, serta satu unit binary berkapasitas 15 MW.

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani menyebut Lahendong sebagai salah satu wilayah kerja andalan PGE sekaligus contoh kontribusi nyata panas bumi terhadap pembangunan daerah. Pemanfaatan panas bumi tersebut, kata dia, berkontribusi langsung terhadap pendapatan daerah melalui PNBP panas bumi, bonus produksi, serta 1 persen pendapatan yang disalurkan langsung ke kas daerah.

Ia menambahkan pengembangan panas bumi tidak berhenti pada pembangkitan listrik. Potensi tersebut juga bisa diarahkan pada pemanfaatan langsung (direct use) dan penciptaan rantai nilai turunan.

Salah satunya yakni melalui operasional pabrik gula keren Masarang di Tomohon dan Lao-Lao Geopark yang menggunakan panas bumi sebagai sumber listriknya. “Ini menjadi modal penting bagi daerah untuk mengembangkan program pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Pilihan Editor: Sinyal Deindustrialisasi dari Rendahnya Pekerja Terdidik

Published by
admin