
MENTERI Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengusulkan agar pengusaha memproduksi tas bermerek atau branded tiruan alias KW. “Saya pikir daripada kita repot-repot ya, pusing-pusing, kenapa nggak UMKM kita juga produksi aja tas-tas KW,” kata Maman di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu, 15 Oktober 2025.
Usulan itu disampaikan Maman menanggapi banjir impor barang tiruan yang diduga membuat penjualan sentra tas Tajur Bogor melesu. Dari permasalahan tersebut, Maman menyarankan menutup pintu masuk dan menyarankan pengusaha lokal memanfaatkan situasi dengan memproduksi barang tiruan.
Menurut Maman, tidak ada yang salah dengan memproduksi barang tiruan. Maman pun meyakini tindakan memproduksi barang tiruan tidak akan menuai protes dari pemilik paten. “Masalahnya gimana? Nggak ada kan? Ada model Louis Vuitton, nah kita buat namanya Louis Vutong,” tutur dia.
Politikus Golkar itu pun optimistis akan mendapatkan restu dari Kementerian Hukum dengan menerbitkan hak kekayaan intelektual bagi tas tiruan. Terlebih, kata Maman, usulan tersebut didasarkan kepentingan untuk memberikan manfaat bagi UMKM.
Maman mengaku tidak masalah jika barang tiruan memengaruhi kepercayaan produsen dari barang bermerek. “Itu urusan mereka, bukan urusan kita.” Ia pun meyakini produksi barang tiruan bisa membuka lapangan pekerjaan. “Kita harus coba twist mindset kita deh. Jangan selalu kita menjadi objek menderita terus,” kata dia.
Ia mengatakan berencana mendiskusikan usulan ini kepada Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan supaya mendorong pengusaha menghasilkan produk tiruan.
Soal laku tidaknya barang tiruan lokal, Maman mengatakan pada dasarnya konsumen membeli produk karena kesamaan model, bukan kualitas. Sehingga ia mendorong mencari solusi agar pengusaha bisa menciptakan tas tiruan dengan harga yang sesuai. “Barang dari Cina itu kualitasnya kan juga nggak bagus-bagus amat. Dibeli tuh sama masyarakat,” tutur Maman.
Pilihan Editor: Lemah Lesu Industri Sepatu