Categories: Finance

Ekonomi tumbuh 5,11 persen, INFID soroti kemiskinan

INTERNATIONAL NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menilai ekonomi Indonesia yang tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan pada 2025 menyimpan kerentanan struktural. Dalam analisisnya, INFID mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada permintaan domestik.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen terbesar penyumbang pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga (2,62 persen) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi (1,58 persen. “Fakta ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan Indonesia masih sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan stimulus fiskal,” ucap Deputy Director INFID Bona Tua dalam siaran pers pada Rabu, 11 Februari 2026.

Lebih jauh, kata Bona, data BPS menunjukkan penguatan konsumsi pada triwulan IV 2025 sangat dipengaruhi oleh faktor temporer—seperti libur Natal dan Tahun Baru, berbagai event nasional, diskon transportasi, serta lonjakan belanja bantuan sosial tunai yang tumbuh 66,88 persen secara tahunan. Menurutnya, data tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan pertumbuhan apabila dukungan jangka pendek tersebut dikurangi atau dihentikan.

INFID juga berpendapat pertumbuhan ekonomi tersebut belum mampu menarik pekerja keluar dari sektor informal. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada November 2025 sebesar 4,74 persen. Angka ini turun 0,11 persen poin dibanding Agustus 2025.

Namun, sebanyak 57,7 persen pekerja dari total jumlah pekerja masih terjebak di sektor informal. Kemudian, sebanyak 32,06 persen penduduk bekerja masih berada dalam kategori pekerja tidak penuh waktu. “Artinya, satu dari tiga pekerja Indonesia belum bekerja secara penuh,” kata Bona.

Lebih lanjut, INFID menyoroti data jumlah penduduk miskin pada September 2025 yang turun 0,49 juta jiwa menjadi 23,36 juta jiwa dibandingkan Maret 2025. Bona mengatakan capaian tersebut perlu dibaca bersama dengan fakta bahwa garis kemiskinan nasional naik 5,3 persen dalam periode yang sama. Selain itu, dia menyebutkan fenomena penurunan kemiskinan sangat dipengaruhi bantuan pemerintah.

Oleh karena itu, INFID mengatakan tantangan utama Indonesia bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan. “Melainkan memastikan kualitas pertumbuhan mampu menciptakan lapangan kerja yang layak, menurunkan ketimpangan, dan menurunkan kemiskinan secara berkelanjutan,” ujar Bona.

Angka pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen lebih rendah dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dipatok sebesar 5,2 persen. BPS juga mengumumkan ekonomi Indonesia di triwulan IV tahun lalu tumbuh 5,39 persen.

“Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen,” ucap Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti saat konferensi pers rilis BPS yang digelar hibrida, Kamis, 5 Februari 2026. Amalia juga menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 merupakan pertumbuhan triwulan keempat tertinggi setelah pandemi Covid-19. Adapun sepanjang 2025, pada triwulan pertama ekonomi RI tumbuh 4,87 persen, selanjutnya 5,12 persen dan triwulan ketiga 5,04 persen.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Mengapa Ekonomi Tumbuh Saat Konsumsi Turun

Published by
admin