
MANAGING Director Business 3 Danantara Asset Management Febriany Eddy mengatakan PT Timah Tbk belum dipertimbangkan dapat suntikan dana pada tahun ini. Dia menganggap perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu masih sanggup dengan manajerial keuangan internal dan dikelola oleh MIND ID selaku holding sektor pertambangan.
“Kami itu adalah jalan terakhir, kecuali misalnya Danantara Investment Management itu melihat ada kesempatan di situ dan mau masuk ya silakan saja,” katanya saat di IDN HQ, Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.
Febriany melihat perusahaan itu juga berperan besar terhadap suplai timah ke pasar dunia. Meski demikian sebelumnya terdapat isu tata kelola dan terjadi kasus korupsi, hingga tambang ilegal.
“Sekarang mau dirapi-rapikan, dibersihkan, dan dikonsolidasi. Saya rasa masa depannya harusnya sangat positif,” tuturnya.
Sebelumnya, PT Timah Tbk menyampaikan akan menyiapkan proposal bisnis untuk tambahan dana proses hilirisasi produk. Proposal akan diajukan melalui anak usaha, yaitu PT Timah atau PT Timah Industri.
“Untuk kiranya dapat disuntikkan atau investasi yang bisa dilakukan oleh Danantara terhadap PT Timah Industri,” tulis PT Timah Tbk dalam dokumen hasil pelaksanaan public expose melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 25 November 2025.
Selain PT Timah, PT Krakatau Steel Tbk turut meminta dana US$ 500 juta, yang dalam jangka pendek akan dipenuhi dalam bentuk Pinjaman Pemegang Saham senilai US$ 250 juta. Uang yang diajukan untuk kebutuhan operasional utama, antara lain: pembelian bahan baku berupa slab baja untuk pabrik HSM, hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil full hard (CRC F/H) pabrik CRM PT KBI, HRC pabrik pipa baja PT KPI, serta produk baja turunan.
Febriany menganggap Krakatau Steel masih punya harapan besar untuk ditolong oleh negara. Apalagi sektor industri baja yang digeluti perusahaan tersebut merupakan ibu dari segala industri dan terus mengalami pertumbuhan.
Tetapi kinerja perusahaan tersebut mengalami penurunan. Untuk mewujudkan kembali kejayaan, Febriany menilai operasional perusahaan harus benar-benar efisien.
Kemudian Danantara juga akan menyuntikkan dana Rp 23,67 triliun kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Sekitar Rp 8,7 triliun (37 persen) akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja, meliputi pemeliharaan dan perawatan pesawat.
Sementara itu, Rp 14,9 triliun (63 persen) akan mendukung operasional Citilink, maskapai anak usaha Garuda. Jumlah itu terdiri atas Rp 11,2 triliun untuk modal kerja dan Rp 3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada PT Pertamina (Persero) periode 2019–2021.
Pilihan Editor: Biang Keladi Penerimaan Pajak 2025 Tak Tercapai
