
BANK Indonesia mendorong agar obligasi korporasi dapat digunakan sebagai underlying asset dalam transaksi repo (repurchasing agreement). Selama ini, BI hanya menerima Surat Berharga Negara (SBN) sebagai agunan dalam transaksi repo.
Kepala Grup Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Fitra Jusdiman mengatakan, perluasan underlying repo diharapkan dapat mendorong peningkatan transaksi surat berharga berkualitas tinggi.
“Repo itu saat ini underlying-nya baru SBN yang bisa kami terima. Padahal di industri itu ada banyak sekali, ada beberapa jenis juga, obligasi yang bisa digunakan,” kata dia dalam taklimat media di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 7 November 2025.
Berdasarkan data IMF 2024 yang dipaparkan Fitra, nilai pasar obligasi korporasi di Indonesia baru mencapai US$ 29 miliar atau setara 2,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi ini lebih rendah dibandingkan negara lainnya.
Di Jepang, misalnya, nilai pasar obligasi korporasi mencapai US$ 678 miliar atau setara 16,84 persen dari PDB. Kemudian di Singapura nilainya mencapai US$ 148 miliar atau setara 27,06 persen dari PDB.
Kedua, Fitra menyebutkan perluasan underlying repo bisa memberikan alternatif pembiayaan bagi perusahaan. Sebab selama ini, perusahaan lebih banyak bergantung ke perbankan untuk mendapatkan dana likuiditas. “Harapannya perusahaan bisa mendapatkan sumber pinjaman yang lebih variatif dan juga dengan harga cost of fund yang lebih efisien nantinya,” ujar Fitra.
BI menetapkan beberapa kriteria obligasi korporasi yang bisa diterima. Adapun kriteria ini berdasarkan credit rating, likuiditas di pasar, serta lembaga penerbit. Pada tahap awal, BI hanya akan menerima obligasi korporasi yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia, likuiditas pasar sekunder obligasi dan sukuk SMF lebih baik dibandingkan Efek Beragun Aset (EBA). Adapun rata-rata harian (RRH) obligasi dan sukuk SMF tercatat masing-masing sebesar Rp 26,5 miliar dan Rp 11,5 miliar.
Sedangkan untuk EBA sebesar Rp 210 juta. “Mudah-mudahan tanggal 10 November, Senin besok, kami bisa lelang perdana untuk repo dengan underlying SMF,” ujar Fitra.
Pilihan Editor: Di Balik Transaksi QRIS Rp 60 Ribu Triliun Setahun