
CHIEF Economist Permata Bank Josua Pardede memprediksi inflasi sepanjang kuartal pertama 2026 berada di atas 3 persen. “Karena efek pembanding yang rendah,” kata Josua melalui pesan teks, Selasa, 6 Januari 2025.
Pada Januari 2025, inflasi tercatat 0,76 persen. Bahkan pada Februari 2025 Indonesia mengalami deflasi 0,09 persen, sebelum Maret 2025 terjadi inflasi 1,03 persen.
Josua menjelaskan, inflasi pada kuartal pertama tahun ini berpotensi lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 karena pada saat itu ada program stimulus ekonomi berupa diskon tarif listrik pada Januari–Februari.
Menurut Josua, ada tiga faktor yang menopang pertumbuhan inflasi pada tahun ini. Pertama adalah pangan yang dipengaruhi cuaca ekstrem, banjir, dan hambatan distribusi yang secara cepat mengerek naik harga pangan segar, terutama saat periode permintaan musima.
Pendorong kedua adalah nilai tukar dan harga komoditas global. Apabila ketidakpastian global tetap terjadi, Joshua memperkirakan harga emas akan tetap tinggi dan ikut mendorong inflasi melalui kenaikan harga emas domestik. Ia juga menekankan pentingnya memantau pergerakan harga energi meski dampak terhadap kenaikannya diperkirakan terbatas dan sementara.
Faktor ketiga adalah kebijakan dalam negeri. Josua mengatakan kelonggaran belanja pemerintah dan kebijakan suku bunga yang mendukung pertumbuhan dapat memperkuat permintaan, termasuk menjaga permintaan pangan tetap kuat. “Sehingga inflasi lebih mudah terdorong bila pasokan tidak siap,” kata dia.
Ia memprediksikan inflasi akan melandai di level 2,72 persen pada akhir tahun. Sementara secara tahunan, Josua memperkirakan inflasi pada 2026 berada di atas 2,5 persen tapi masih berpeluang bertahan di bawah 3 persen dan turun bertahap setelah tekanan musiman mereda.
Untuk mengendalikan inflasi, Josua menyarankan agar pemerintah tidak hanya menahan permintaan tetapi memperkuat pasokan dan kelancaran distribusi pangan.
Misalnya dengan memastikan stok dan penyaluran antarwilayah berjalan cepat saat terjadi cuaca ekstrim, menekan biaya logistik saat bencana, memperkuat operasi stabilisasi harga di daerah mengalami lonjakan inflasi, hingga memperbaiki pola pengadaan pangan program pemerintah. Tujuannya agar mencegah kelangkaan pasokan pangan di pasar.
Ia pun menekankan kewaspadaan gangguan cuaca dan gangguan distribusi pada saat rupiah melemah yang menciptakan tekanan harga dan membuat inflasi bergejolak terlepas dari permintaan yang kuat.
Sedangkan Bank Indonesia memperkirakan inflasi tetap berada di kisaran 1,5–3,5 persen pada 2026 dan 2027.
Pilihan Editor: Mengapa Inflasi November Melandai